Misteri Kertas Hilang
Aku, Icha, Anisa, Endhita dan Leony
adalah satu regu di ekstrakurikuler sekolahku. Aku dan teman-teman sepakat
untuk memberi nama kelompok kita dengan nama “Melati”. Setiap ada kegiatan
Pramuka di sekolah kita, kita tidak akan segan-segan untuk mengikutinya, bagi
kita Pramuka adalah segalanya.
Pada hari itu adalah hari terakhir kita untuk memasuki
kelas 5 SD, karena memang pada hari itu adalah hari untuk pengambilan rapor
kenaikan kelas, dan syukurlah di kelas 5A naik 100% dengan nilai yang sangat
memuaskan.
“Mif! Aldi lho naik! Pacarmu itu, hehehehe”, kata Endhita
yang memang suka sekali menggodaku dengan sebutan ‘pacarnya Aldi’, memang tidak
apalah Endhita memanggilku begitu karena memang aku sudah memiliki rasa ke
salah satu laki-laki itu. “Loh? Kok penghinaan! Aldi ya pasti naik lah End! Itu
loh Oktan?! Naik nggak?”, kataku sambil tidak mau kalah dari Endhita.
“Hey End! Mif! Kalian ikut persami nggak?”, tiba-tiba Icha
datang dan menghentikan ejekanku dengan Endhita, sebenarnya aku sedikit kesal!
Berani-beraninya menghina Aldi? Huh ! “Pasti ikut Cha! Kamu ?”, tiba-tiba Leony
datang dan menjawab pertanyaan Icha, aku bertanya-tanya di dalam hati,
sebenarnya siapa yang ditanyai Icha? Aku dan Endhita atau Leony ? Huh! Memang
sifat Leony ini tidak bisa dihindari, memang sifatnya yang suka memotong
pembicaraan orang selalu dilakukannya.
“Hey On! Ini sebenarnya siapa sih yang ditanyai ?”, kataku
sebal dengan mengerutkan wajah dan meninggalkan kelas, mungkin empat sahabatku
heran dengan kelakuanku.
Pada siang hari sekitar pukul 13:00, aku dan teman-teman
datang ke sekolah untuk mengikuti persami ke II yang kita ikuti. Pada siang
hari kita masih bersiap-siap dan membersihkan kelas yang akan kami gunakan
untuk ruang tidur kita.
“Nis! Tolong angkat meja ini yuk sama aku! Aku nggak kuat
sendirian!”, kataku sambil merengek meminta tolong kepada Anisa, akhirnya Anisa
menolongku.
“Iya Mif!” Aku dan teman-teman akhirnya sudah membersihkan kelas, bagi kita menyelesaikan tugas dengan kerja sama hanya membutuhkan waktu yang sangat singkat.
“Iya Mif!” Aku dan teman-teman akhirnya sudah membersihkan kelas, bagi kita menyelesaikan tugas dengan kerja sama hanya membutuhkan waktu yang sangat singkat.
Pada malam hari, seperti biasa kita melaksanakan upacara
api unggun, memang upacara ini adalah upacara yang sangat kita tunggu-tunggu.
Meskipun upacara yang kita tunggu-tunggu adalah upacara api unggun, tetapi
jelajah malam justru kegiatan yang sangat kita tunggu-tunggu selama 6 bulan
ini.
“Guys! Habis upacara, kita jelajah kan?”, tanya Icha yang
tiba-tiba didengar oleh kakak pembina, akhirnya aku dan teman-teman tidak
menjawabnya karena takut dihukum. Sekarang adalah hal yang paling mendebarkan
untukku dan teman-temanku, aku berjalan sedikit demi sedikit sambil memanjatkan
doa, karena memang dari sekolah perasaanku dudah tidak enak.
“Cha! Kok perasaanku enggak enak ya Cha?”, kataku sambil menundukkan
kepala dan tidak sanggup melihat ke arah depan. “Mif, tenang aja deh, kita
pasti bisa kok sampe di finish! Yuk doa aja!”, kata Icha yang berusaha
menenangkanku, tetapi aku rasa usahanya gagal. Menurutku memang Icha bukanlah
orang yang tepat untuk menenangkan seseorang. “Iya deh, tapi kita berlima harus
gandengan tangan terus loh ya!”, kataku sambil berusaha menghilangkan wajah
ketakutanku.
Aku dan teman-teman sudah datang di Pos ke-1, dan Pos ke-2.
Aku bukannya semakin lega karena pos terakhir atau ke-4 sudah dekat. Namun
entah mengapa justru jantungku semakin berdetak lebih kencang seperti genderang
mau perang.
“End, Jangan lewat kesana loh! Nanti ada genderuwo!”, kata
seorang wanita yang mengendarai sepeda motor yang tidak lain adalah tetangga
Endhita.
“Enggak apa-apa! Sama temen-temen kok Bu”, kata Endhita semangat, entah mengapa anak ini seperti tidak merasakan apa-apa, padahal sudah jelas ada orang yang berkata seperti itu, dan semakin keraslah detakan jantungku.
“Enggak apa-apa! Sama temen-temen kok Bu”, kata Endhita semangat, entah mengapa anak ini seperti tidak merasakan apa-apa, padahal sudah jelas ada orang yang berkata seperti itu, dan semakin keraslah detakan jantungku.
Aku dan teman-teman berjalan dengan penuh ketakutan, aku
dan teman-teman semakin ingin cepat-cepat datang ke Pos ke-3, dan meninggalkan
jalan ini yang konon katanya angker. Tiba-tiba, kita bertemu dengan seorang
wanita entah siapa padahal disini adalah lingkungan tempat tinggal Endhita,
tetapi Endhita tidak mengenalnya.
“Jangan lewat sana gelap!”, katanya. “Tidak apa-apa, kami
sudah membawa lilin”, kata Ony alias Leony.
Saat datang di jalan yang katanya angker, aku dan
teman-teman semakin gugup. Tiba-tiba terdengar suara kelapa jatuh satu kali,
padahal kita tahu bahwa di sekitar sini tidak ada pohon kelapa satu pun. Tidak
hanya itu saja tiga kelapa menyusul, bagaikan kelapa itu mengejarku dan entah
apa yang harus kita berlima lakukan, akhirnya dengan segera kita berlima lari
menjauh dari tempat itu. Entah apa yang kulihat saat aku berlari, aku melihat
bayangan hitam yang seolah menarikku dan tidak mengizinkanku untuk meninggalkan
tempat itu. Aku tetap berlari dan akhirnya lolos dari tempat itu.
Aku dan teman-teman mendegar celetuk Icha, yang berkata
“Dimana kertas Pos 2? Padahal aku taruh di dalam kertas Pos ke-1?” .
Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa bayangan hitam besar
yang menarikku? Dimana kertas itu berada? Lalu, apa bunyi kelapa jatuh itu?
Tidak mungkin sampai empat kali berturut-turut! Sampai saat ini pun aku dan
keempat temanku masih belum menemukan jawabannya.
~The End~

0 komentar :
Posting Komentar