About Me

Followers

Cerpen Horor "The Doll"


The Doll
     

Mira dan Ica adalah 2 sahabat yang sangat akrab. Mereka sangat dekat seperti kaca dan pintu. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka selama ini.
Suatu hari mereka pergi berliburan ke Pulau YaFu. Mereka menghabiskan waktu liburan disana, mereka menginap di sebuah hotel yang bernama hotel YuMo yang konon hotel itu adalah hotel angker, namun Mira dan Ica tak percaya.
Suatu ketika mereka pergi ke pantai dekat hotel tersebut untuk berjemur. Ketika berangkat, mereka menemukan sebuah boneka perempuan dengan rambut sepanjang bahu yang hitam seperti manusia. Mira mengambil boneka itu dan menunjukannya kepada Ica “Ca! Lihat, aku nemu boneka cantik Ca..” Kata Mira “Wah… Iya, bisa buat temen tidur kita” kata Ica “iya..” Kata Mira. Mereka tertawa senang, tiba-tiba seorang anak muda seumuran mereka menghampiri mereka “Jangan disimpan” kata perempuan itu “lho. Kenapa? Kamu mau? Ini kan kita yang nemu.. iya gak Ca?” kata Mira “He’em” kata Mira memegang erat boneka “aku bukanya iri, hanya saja..”
“Sudahlah! Yuk pergi” kata Mira namun Ica tak mau pergi “Kenapa?” Tanya Ica pada pada anak itu “Boneka ini milik YafuF MeiChi. Dia akan marah kalau diambil bonekanya, dan dia akan menghantui kalian” jelas anak itu “Mitos, kalau begitu ayolah pergi saja. Terimakasih” kata Ica lalu mereka pergi membawa boneka itu. Perempuan itu menatap kepergian Ica dan Mira dengan tajam, seperti ada dendam dengan mereka.
Mira dan Ica membawa boneka itu ke kamar hotel tempat mereka menginap. Mereka membersihkan boneka itu “Kita berjanji gak akan… Buang boneka ini!” Kata Mira “Iya” sambung Ica. Jam dinding menunjukan pukul 21.00 itu tandanya mereka harus tidur. Mereka pun tidur lelap dan pada pukul 24.00 ketika Ica bangun, boneka itu kepergok sedang menulis sesuatu di kertas “Ra!” Kata Ica “Ra.. Mira! Bangun! Ada kejadian aneh Mira! Cepat bangun” kata Ica “Hnnn… Apaan sih! Ganggu tidurku ajaa” kata Mira ketika bangun dari tidurnya. Kini mereka dalam keadaan duduk menghadap boneka itu.” “Kyyyaaaa” teriak Mira lalu tutupan dengan bantal “Itu…” Kata Ica mendekati boneka yang ditemukanya tadi. Merasa didekati, boneka itu langsung terdiam tak bergerak “bo.. bo..” Kata boneka itu, jantung Ica berdegup kencang “Kaa… mu… Aaa… Aku pasti mimpi!” PLAKK kata Ica menampar pipinya “aw! Sakit! Ini nyata! Aaaaaaa” Ica terbangun dari tidurnya ia duduk di kursi bersama boneka itu, ternyata tadi Ica mimpi “cuma Mimpi” kata Ica lalu menatap tajam boneka itu dan ia mendengar “bo… bo…” Suara yang dikeluarkan boneka itu di dalam mimpinya, OMG! Apa yang harus ia lakukan? “KYYYAAAA” teriaknya lalu lari ke kasur dan menutupi mukanya dengan selimut dan memeluk bantal.
KREEKK
“Bo.. bo..” Kata sebuah suara dari dekat pintu “aaaa…. Jangan ganggu aku!!” Teriak Ica “ternyata belum bobo ya” kata suara itu yang ternyata suara Mira. Ica membuka selimutnya dan menggeser bantalnya.
Sejak saat itu, liburan mereka jadi tidak seru karena diganggu oleh boneka itu yang setiap malam bangun. Hingga pada suatu hari mereka berniat membuang boneka itu ke pantai. “Boneka… Maafin aku ya.. Kamu harus aku buang” kata Mira tak rela “bo… bo…” Kata boneka itu “cepet buang..” Kata Ica, Mira pun melempar boneka itu ke air namun tiba-tiba tangan Mira serasa digandeng. Ia menyelinguk ke tanganya “bo… bo…” Kata boneka itu “boneka!!” Kata Mira ketakutan. Ia pun melempar boneka itu namun selalu kembali lagi. Kemudian datang perempuan yang pada waktu itu memperingatkan mereka untuk tidak membawa boneka itu, “bo.. bo.. Ayo.. Kita sudah dipanggil.. Jangan ganggu mbaknya ya.. Mereka kasian.. Mau liburan..” Kata anak itu “bo.. Bo..” kata boneka “kamu jadi teman tidurku saja ya.. Jangan mereka! Kasihan mereka.. Kamu cantik sekali YuChi.. Tapi rambutmu berantakan, sini.. YuMo rapikan..” Kata anak itu, boneka itu yang ternyata bernama YuChi pun mendekat ke YuMo, anak perempuan itu dan YuMo menggandeng tangan YuChi kemudian menyisiri rambut YuChi. Ketika selesai, YuChi hendak berlari kea rah Mira dan Ica namun tanganya ditarik oleh YuMo dan seketika mereka berubah menjadi boneka, kemudian menghilang begitu saja. Mira dan Ica heran seheran-heranya “Mira!!!” Teriak seseorang yang entah dari mana, Mira pun membuka matanya dan ternyata boneka itu adalah mimpinya. “Iya ma..” Kata Mira “udah siang. Yo mandi!” Kata mama lalu pergi ke luar kamar Mira.
BRRAAKK
“Bo..bo..”
“KYYAAA” teriaknya lalu berlari ke luar kamar
(Sementara itu di sumber suara)
“Bo.. bo.. Aja kerjaanya! Belum dimarahi sudah kabur!! Dasar” kata kakaknya.

~The END~

Surat "Hikayat Amir Hamzah"


Hikayat Amir Hamzah
          Alkisah, diceritakan oleh yang empunya ceritera ini, sekali peristiwa ada seorang raja di sebuah negeri, Mada’in namanya. Raja itu bernama Kobat Syahril. Negeri itu terlalulah luas dan maha besar. Adapun raja itu terlalu adil dengan murahnya, bangsawan, lagi budiman dan dermawan. Baginda dikasihi oleh segala menteri dan hulubalang; segala isi rakyat negeri mada’in itu amat kasih akan raja itu, sebab adil dan murahnya. Seorang pun raja-raja tiada dapat melalui titahnya, dan dan tiada dapat mengikut kelakuannya. Segala negeri di dalam tanah Arab itu takluh dibawah perintahnya.
            Adapun raja itu ada empat puluh empat menterinya, tujuh ratus bentaranya, dan dua ratus pahlawan yang gagah lagi kenamaan duduk di atas kerusi keemasan, dan Sembilan ratus raja-raja yang memakai mahkota betatahkan ratna mutu manikam. Maka di hadapan raja itu sepuluh laksa hulubalang memakai zirah besi, tiada kelihatan tubuhnya, mengendarai kuda semberani, dan tiga puluh ribu hamba tebusan memakai pakaian keemasan, berikat pinggang dewangga berumbai-rumbaikan mutiara. Sekalian mereka itu khidmat kepadanya, senantiasa sehari-harian hadir menghadap.
            Adapun penghulu segala menteri itu, Alkhis Menteri namanya, terlalu sempurna pada ilmu hulubalang dan hikmat peperangan; dalam negeri itu seorang pun tiada dapat menyamainya dan barang sembahnya berlakulah kepada raja.
            Maka di dalam negeri itu ada juga seorang menteri daripada Islam, namanya Khoja Bakhti Jamal disebut orang, sebab ia daripada anak cucu nabi-nabi juga;  lain daripada itu semuanya kafir menyembah api sia-sia adanya.
            Alkisah, adapun akan Alkhis Menteri dan Khoja Bakhti Jamal itu terlalu sekali berkasih-kasihan, seperti orang bersaudara lakunya, seketika pun tiada bercerai, sediakala kunjung-kunjungan tiada khali. Demikian perinya, jika belum Alkhis Menteri bertemu dengan sahabatnya, Khoja Bakhti Jamal, belum ia pergi menghadap raja.
            Sekali peristiwa, seperti adat yang lazim jua, pada suatu hari datang Alkhis Menteri ke rumah Bakhti Jamal. Dilihatnya ta’ifah (bagian) romanya, lalu digerakkan kepalanya. Maka kata Khoja Bakhti Jamal, “Hei saudaraku, mengapakah saudaraku menggerakkan kepalamu?”
            Maka sahut Alkhis Menteri, “Hei saudaraku, kulihat pada ta’ifah romaku, bahwa empat puluh hari lagi suatu mara besar datang kepada Tuan Hamba. Mara itu jika tiada baik-baik kiranya, sampai kepada nyawa Tuan Hamba akan padahnya.”
            Setelah didengar Khoja Bakhti Jamal kata Alkhis Menteri demikian, maka kata Khoja Bakhti Jamal, “Hei saudaraku, betapa bicaramu hal demikian itu sepatut boleh menolakkan bala itu? Katakan apalah kiranya supaya hamba turut.”
            Maka kata Alkhis Menteri, “Hei saudaraku, adapun pada bicara hamba, hendaklah tuan hamba berkhalwat empat puluh hari, jangan keluar daripada rumahmu, dan jangan berkata-kata dengan seorang pun.”
            Arakian, maka Alkhis Menteri pun kembalilah ke rumahnya. Maka Khoja Bakhti Jamal pun berkhalwatlah di rumahnya, duduk empat puluh hari. Maka pada ketika kurang sehari daripada empat puluh hari itu, datanglah Alkhis Menteri berseru-seru, katanya, “Hei saudaraku, pertetaplah hatimu. Adapun mara yang besar itu lebih telah lepaslah daripada Tuan Hamba sekarang, sehari juga lagi tinggal; kemudian dari pada itu lepaslah tiada mengapa. Akan sekarang nescaya kebajikan juga tuan hamba beroleh. Hei saudaraku bangkitlah engkau. Mari kita berjalan ke padang di dalam taman itu, bersuka-sukaan dan makan buah-buahan yang lezat cita rasanya; harum baunya bunga-bungaan itu kita pakai.”
            Setelah mendengar kata Alkhis Menteri demikian, maka Khoja Bakhti Jamal pun turunlah. Maka kedua mereka itu pun berjalanlah berpegang-pegang tangan, keluar melihat temasya. Setelah datang kepada antara jalan itu, maka Khoja Bakhti Jamal pun hendak khada hajat, maka ia pun berkata kepada Alkhis Menteri, “Hei saudaraku, Tuan hamba berdiri di sini seketika, Hamba hendak kadha hajat.”
            Maka tatkala itu diberi izin oleh Alkhis Menteri. Maka Khoja Bakhti Jamal pun berjalanlah menuju jalan masuk kepada penjuru taman itu. Maka ia pun kadha hajatlah. Setelah sudah ia kadha hajat, ia pun mengangkat sebutir batu hendak istinjak. Maka dilihatnya di bawah batu itu ada suatu lubang bekas diikat orang dengan batu yang di pegangnya itu; rupa batu itu terlalu halus dan indah-indah sekali perbuatannya.
            Maka Khoja Bakhti Jamal pun masuk ke dalam lubang itu, dilihatnya di dalam lubang itu ada suatu pintu. Di sebalik pintu itu ada sebuah bilik yang diikat dengan batu. Di dalam bilik itu dilihatnya suatu perbendaharaan berisi empat puluh buah tempayan, penuh dengan emas. Maka di bawah tempayan berisi emas itu, tempat kedudukan perbendaharaan Karun, tandanya adalah tersurat pada batu di hadapan tempayan berisi emas itu.
            Setelah Khoja Bakhti Jamal melihat emas itu terlalu banyak, makaia pun berfikir di dalam hatinya. “Adapun akan harta ini harta baitulmal, apa gunanya; baiklah aku memberitahu sahabatku Alkhis Menteri, supaya harta ini dibagikan kepada segala fakir miskin.”
            Telah sudah berfikir demikian, maka Khoja Bakhti Jamal pun memberitahu Alkhis Menteri, katanya, “Hei saudaraku Alkhis Menter, adapun hamba bertemu dengan suatu perbendaharaan empat puluh buah tempayan, berisi emas terlalu banyak.”
            Maka sahut Alkhis Menteri, “Hei saudaraku, di mana tempat itu ?” Maka lalu dipegangnya tangan Khoja Bakhti Jamal, serta katanya, “Tunjukkan apalah kiranya kepada hamba, supaya hamba pun melihat dia.”
            Maka Khoja Bakhti Jamal pun membawa Alkhis Menteri kepada tempat perbendaharaan itu. Apabila Alkhis Menteri melihat harta  perbendaharaan itu terlalu banyak, maka hatinya pun terlalu suka cita; mukanya berseri-seri seperti bunga raya kembang. Maka ia pun berpikir di dalam hatinya, “Adapun harta ini terlalu banyak, jika aku ambil setahu Khoja Bakhti Jamal ini, nescaya keluarlah rahasia ini. Seperti kata orang tua-tua dahulu kala, ‘jika memenggal kepala orang, jika kepada saudara sendiri pun jangan di beritahu’. Demikianlah adatnya pekerjaan rahasia ini, sempurnalah aku. Adapun Khoja Bakhti Jamal ini, di atas perbendaharaan inilah aku bunuh, supaya seumur hidupku datang kepada anak cucuku pun memakannya tiada habis, dan suatu pun tiada balanya akan daku dan akan anak cucuku.”
            Setelah sudah ia berpikir demikian, maka ditangkapnya hendak diramasnya akan Khoja Bakhti Jamal. Maka Khoja Bakhti Jamal pun jatuh terlentang, lalu dinaiki oleh Alkhis Menteri ke atas dadanya sambil ia menghunus pedang, lalu dihantarkan pada leher Khoja Bakhti Jamal.
            Maka kata Khoja Bakhti Jamal, “Hei sahabatku, inilah pekerjaan yang sia-sia, tiada teguh janji, dan tiada teguh setia. Pekerjaan apa yang engkau kerjakan ini?”
            Maka jawab Alkhis Menteri, “Hei sahabatku, inilah sebaik-baiknya kerjaku, hendak membunuh engkau; supaya rahasia ini jangan lagi keluar.”
            Maka kata Khoja Bakhti Jamal, “Demi Tuhan yang menjadikan aku, akan rahasia ini tidaklah aku katakana kepada seorang jua pun.” Maka berapa pun dikatanya, tiada juga didengar oleh Alkhis Menteri. Maka berkata lagi Khoja Bakhti Jamal, “Hei sahabatku, adapun pada bicaraku, engkaulah sahabatku yang terlebih baik daripada sahabat-sahabatku yang lain. Pada bicaraku tiada akan sampai hatimu hendak perbuat akan daku demikian. Maka beberapa dikatanya itu pun tiada diperkenan oleh Alkhis Menteri.
            Tatkala itu Khoja Bakhti Jamal pun tahulah, bahwa Alkhis Menteri dengan sah sesungguhnya hendak membunuh dia.
            Maka kata Khoja Bhakti Jamal, “Hei saudaraku, telah aku ketahuilah kehendakmu hendak membunuh aku dengan sungguh hatimu, maka ridalah aku; dengan titah Tuhan sarwa sekalian alam, telah terserahlah nyawaku di dalam tanganmu; tetapi ada satu pesanku kepada Tuan Hamba, jangan sampai disampaikan.”
            Maka sahut “Alkhis Menteri, “Hei Bakhti Jamal, apa pesanmu itu? Katakanlah kepada aku supaya aku dengar dahulu, karena aku tiada akan menghidupi akan dikau.”
            Maka kata Khoja Bakhti Jamal, “ Adapun akan sekarang ini, isteriku yang di rumah aku itu hamil. Aku tinggalkan karena aku sekarang akan belayarlah daripada negeri yang fana ke negeri yang baqa. Adapun isteriku itu melainkan Allah subhanahu wa taala juga yang menghidupi akan dia; dan tiada yang lebih berkuasa daripadanya. Adapun harta ini barang seribu dinar emas berikan kepada isteriku itu, dan katakana kepadanya, akan suamimu itu, telah ditolong oleh seorang saudagar, dibawanya ke negeri Khuaran. Sekarang ia sudah pergi. Inilah seribu dinar emas dikirimkan kepada aku, suruh berikan kepadamu. Adalah pesannya lagi suruh sampaikan juga amanat kepadamu, jika engkau beroleh anak laki-laki disuruh namakan Khoja Buzurjumhur Hakim, dan baik-baik pelihara olehmu. Demikianlah amanatnya; dan jika anak itu perempuan mana bicaramulah.”
            Maka pesan Khoja Bakhti Jamal itupun dikabulkan oleh Alkhis Menteri. Sudah itu maka Khoja Bakhti Jamal pun disembelih oleh Alkhis Menteri di atas perbendaharaan itu.
            Yakni yang nyawa itu asalnya daripada kandil yang di bawah arasy Allah taala; yang badan itu datangnya daripada bumi, menjadi tanahlah dia.
            Setelah Alkhis Menteri sudah membunuh Khoja Bakhti Jamal, lalu ditanamkannya di atas perbendaharaan itu juga. Kemudian dari itu, diambilnya seribu dinar emas lalu diberikannya kepada isteri Khoja Bakhti Jamal. Segala pesan Khoja Bakhti Jamal itu semuanya disampaikannya seperti amanat kepada isteri Khoja Bakhti Jamal. Sungguh benarlah seperti kata Alkhis Menteri itu. Maka akan emas itu diambil oleh isteri Khoja Bakhti Jamal. Hatinya pun terlalulah sukacita.
            Maka Alkhis Menteri pun kembalilah ke rumahnya lalu memanggil laskarnya dan sahayanya sekalian. Maka disuruhlah pagar taman itu teguh-teguh. Setelah sudah, Alkhis Menteri pun mendirikan sebuah mahligai di atas taman perbendaharaan itu; di keliling mahligai itu ditanamnya berbagai jenis pohon kayu. Maka Alkhis Menteri pun sediakala melakukan kesukaan; senantiasa makan minum dengan segala hulubalang serta segala bunyi-bunyiannya, wallahu a’lam bissawab.
Dikutip Hikayat Amir Hamzah, hlm. 1-6 
         

Cerpen "Peri Kunang-Kunang"


Peri Kunang-Kunang           
LIMAS itu gelap pekat. Tak ada setitik cahaya pun yang terlihat. Dinding-dinding papannya terlihat kusam dalam gelap. Bau melati menyeruak. Semerbak. Lalu, berputar-putar ke atas bubungan. Kemudian, angin membawanya terbang. Menarik kunang-kunang kecil untuk datang.
Aku dan Dul menatap awas. Sejak lepas isya, kami telah bersembunyi di sini, di rumpun melati yang menjadi pagar hidup limas tua lapuk ini. Pagar yang dalam gelap seolah memiliki mata, mengawasi, dan akan menyergap ketika korbannya lengah.
Bahwa pagar ini bisa bergerak dan memanjangkan sulur-sulurnya, sudah pula kami dengar. Banyak kawan sepengajian mengurai cerita yang sama. Seperti Liman, dia pernah cerita, kalau di suatu malam yang membuatnya terkencing-kencing, saat ia berjalan gontai pulang dari masjid, tiba-tiba saja ada sesuatu yang melilit kakinya. Liman tersentak, jatuh tengkurap mencium tanah.
Seketika ia terseret kuat. Liman menjerit-jerit saat melihat ke belakang, di matanya pagar dari rumput melati itu tiba-tiba bermata merah, bermulut besar hitam, dan ranting-rantingnya menjulur seperti tangan gurita, berebutan untuk membelit tubuhnya.
“Lantas, bagaimana kau bisa selamat?” tanya Akem tiba-tiba, tak kuat menunggu akhir kisah Liman yang menakutkan.
“Saat aku menjerit-jerit sambil berpegangan pada apa saja agar tak masuk rumpun setan itu,” semua kawan menahan napas, “Bujang lapuk yang menakutkan itu muncul. Ia memukul rumput setannya dengan kayu. Sekejap itu pula, sulur-sulur itu melepaskan lililitan di tubuhku, lalu berlarian kembali ke rumpun. Senyap.Tak bergerak. Seolah-olah hanya tanaman melati biasa.”
Kami menghela napas mendengar cerita Liman yang mengerikan itu.
“Lalu, apa bujang lapuk itu bercakap denganmu?” aku yang bertanya pada Liman. Sebab setahuku, bujang di limas tua berkarat itu tak pernah bertegur sapa dengan siapa pun. Ia seolah mengasingkan diri. Atau terasing?
“Tak sepatah kata pun ia bercakap. Matanya cuma menatapku tajam, merah. Lalu, ia pergi ke dalam pekarangan limasnya lagi. Usai itu aku terbirit-birit pulang.”
Cerita menakutkan tentang limas tua dan penghuninya ini, sudah lama tersiar di kalangan kami, anak-anak dusun Tanah Abang, pun dari mulut-mulut orang dewasa. Bukanlah Liman seorang yang pernah mengalaminya, banyak. Salah satunya Padel, kawan kami yang pandai bersilat dan punya badan kekar lagi tegap.
Ia bercerita, sepulang dari latihan silat, kira-kira hampir menjelang tengah malam, dusun telah senyap dan malam seperti jubah setan yang hitam dan tebal. Padel berjalan sendiri menuju limas orangtuanya di selatan dusun. Limas lapuk ini memang berada di pinggir setapak, berjarak jauh dengan limas-limas lainnya. Batang kueni, mangga, jambu air, dan kelapa tumbuh di sekitarnya.
Saat itu, tak ada siapa-siapa yang lewat. Jangankan orang, bunyi binatang pun tak ada. Malam senyap. Mencekam. Seolah telah terjadi persekongkolan antara malam, pekat, dan arwah-arwah penasaran yang ditolak bumi mentah-mentah. Lamat-lamat, seiring langkah kaki Padel di setapak, tercium bau melati yang menyeruak. Hidung pesek Padel mengembang. Arahnya dari depan.Terkesiaplah ia. Padel langsung teringat akan limas dan bujang lapuk penghuninya.
Sebelum Padel dapat menguasai rasa takut yang tiba-tiba menjalar di dadanya, ia sudah dikejutkan dengan pemandangan ganjil di depannya. Limas lapuk itu benderang dengan cahaya kerlip-kerlip di udara. Rumpun melati yang biasanya tak bergerak, tengah bergoyang-goyang, meliuk serupa tangan-tangan hantu. Tak hanya itu, Padel melihat bujang lapuk itu sedang memeluk ketel besi. Dan ia seolah tengah menangkap cahaya berkerlip-kerlip itu, lalu mengumpulkan dalam ketelnya.
“Kunang-kunang,” desis Dul menebak cahaya berkerlip itu.
“Iya,” sahut Padel dengan mimik muka serius, “Dan tahukah kalian kunang-kunang itu lahir dari apa?” serentak kami menggeleng dengan wajah pucat-pasi tapi penasaran.
“Kuku orang mati,” bisik Padel, dengan suara didesiskan. Seketika, tengkuk kami seperti meriap berdiri. Kami duduk merapat dan menenangkan degup dalam dada.
SUDAH lebih dari satu jam aku dan Dul dalam rumpun melati ini. Nyamuk berdengung-dengung, membabi-buta di kulit. Minyak dari kulit jeruk yang kami usapkan, tidaklah terlalu mempan. Buktinya nyamuk-nyamuk keparat itu tetap saja datang, menggigit, lalu menghisap darah kami kuat-kuat. Seperti setan haus darah.
Halik dan Pebot yang berada di rumpun melati seberang sana, belumlah memberi kode atau tanda menyerah. Apa mungkin keduanya jatuh tertidur? Fhuuii, biadab sekali kalau keduanya tertidur di saat genting seperti ini. Aku mulai khawatir ketika burung pungguk sudah bergugut dalam pekat malam. Kata Liman, bila burung yang selalu dihubungkan dengan hantu itu sudah berbunyi, itu tandanya kerlip-kerlip itu akan mulai muncul dari dalam limas. Dan bujang lapuk itu akan memulai ritualnya: memanggil peri kunang-kunang. Kekasih abadinya dari alam tak teraba.
Ahai, cerita tentang peri kunang-kunang ini pulalah yang sejatinya membuat kami penasaran. Hendak melihat sendiri, tak puas hanya mendengar cerita dari kawan-kawan saja. Bisa jadi, mereka telah bermufakat, membuat persekongkolan keji, menebar cerita yang tak teruji. Lalu, di belakang kami yang pucat pasi, mereka akan tertawa geli.
Aku sejatinya tak paham, apa benar peri kunang-kunang itu ada. Aku pun sebenarnya hendak menanyakan ihwal itu pada Emak atau Kajut-ku. Tapi, niat itu kuurungkan. Bila aku bertanya, pasti mereka akan menerka dengan tepat: bujak lapuk itulah yang tengah aku perbincangkan. Dan Emak selalu tak suka bila aku dekat-dekat ke sana. Kalau kutanya kenapa, Emak selalu bilang: Pokoknya jangan ke sana, bujang tua itu tak suka diganggu, kalau ada bujang-bujang tanggung yang mengganggunya, ia akan memasak mereka dalam periuk.
Nah, cerita dari Liman-lah yang kami dapat. Entah, dari mana ia mendapatkan cerita itu? Kuterka, Liman tak mungkin mengarangnya. Kepandaiannya tak berada di atas kami. Berapa kali kami mendapat tugas mengarang dar Bu Beti, tak pernah Liman dapat nilai lebih bagus dari kami. Sama-sama lima. Selalu.
Menurut cerita Liman, bujang lapuk di limas tua bekarat itu pemuja setan. Tak hanya memuja, bujang itu pun sudah menggadaikan hidupnya pada iblis, bahkan bujang itu sudah menikah dengan iblis pujaannya, si peri kunang-kunang. Oi, seketika bulu-bulu di kaki dan tanganku berdiri tegak, seperti orang yang ketakutan dan siap lari sekuat tenaga.
“Kau ingat cerita Padel?” tanya Liman padaku sambil berbisik, aku mengangguk kecil dengan menahan napas, sekaligus kencing yang tiba-tiba terasa hendak keluar. Alangkah menyiksa menahan semua itu bersamaan.
“Kunang-kunang datang berkumpul ketika ia panggil,” aku menelan ludah melihat mimik muka Liman yang mengerikan, “Dan kunang-kunang itu datang dari kuku orang mati. Kuku hantu. Kuku iblis betina.”
Aku tak bisa berkata ketika Liman mengatakan itu. Kupandang lekat-lekat wajahnya, berharap menunggu tawa menyembur dari mulutnya. Satu, dua, tiga. Mata Liman tetap menatapku tajam. Empat, lima, enam. Wajahnya tetap mengeras. Ah, ini bukan lelucon yang Liman lontarkan. Ia tengah bercerita seram dengan kesungguhan.
“Kau tahu kenapa bujang lapuk itu tak pernah kawin?” mata Liman semakin berkilat, ia mendekatkan wajahnya, aku tersurut sembari menggeleng.
“Bukan karena ia bujang tak laku,” terang Liman seolah paham dengan isi kepalaku, “Wajahnya rupawan. Sangat elok untuk ukuran bujang. Orang tuanya pun cukup berada,” Liman menarik wajahnya. Ia menjulurkan kakinya. Lalu, pelan-pelan bibirnya merekah. Sekuncup senyum menyembul, pelan-pelan dikulum, dan mekar sekelopak-sekelopak.
Bujang lapuk itu hampir menikah, itulah yang Liman ceritakan. Gadis pujaannya perempuan menawan. Bertubuh sintal. Hanya sayang, nasib malang menimpah. Gadis itu mati mendadak. Dan tak ada yang tahu musababnya. Tiba-tiba saja, terjadi begitu saja. Mati. Tak bernapas.
Bujang lapuk tak kuasa menanggung beban. Tak sanggup menghadapi kenyataan. Gadis yang ia cintai harus mati muda. Rincak perempuan tua yang menumbuk bumbu untuk hajat pernikahan, berubah jadi sedu sedan.
“Dan kau tahu apa yang bujang lapuk itu lakukan?” mata Liman masih saja berkilat.
Aku agak tak suka dengan air muka dan kilatan matanya. Seperti kerasukan cerita. Dan itu sangat menyeramkan.
“Bujang itu tak bisa berpisah dengan pujaannya. Jadi, saban malam, ia memanggil arwahnya dengan upacara kunang-kunang. Mereka bercinta dan berkasih-kasihan hingga fajar menjelang,” akhir Liman pada ceritanya.
Menakutkan. Hanya itu yang terlintas di kepalaku. Bagaimana bisa ada orang yang memanggil arwah pujaan hatinya, lalu bercinta. Tak bisa kucerna. Tapi, justru cerita yang tak bisa kucerna itulah yang membuat kami nekat. Kami tak hendak hanya menjadi pak turut dalam cerita yang Liman urai. Dan kesepakatan itu terbentang: Malam Jumat kami akan menakar nyali seorang bujang ingusan.
 .“KUNANG-KUNANG,” desis Dul menyadarkanku. Aku tersengat. Mata kami mendongak. Satu-dua kunang-kunang terlihat mulai terbang. Lalu, banyak. Ada puluhan. Ratusan. Mungkin juga ribuan. Kunang-kunang menari, menjelma lekukan tubuh gadis. Gemulai. Meliuk. Seperti tersihir aku bangkit berdiri dari dalam rumpun melati. Kunang-kunang mengajak menari. Halik dan Pebot sudah lebih dulu berjalan tertatih. Mengikuti irama kunang-kunang yang penuh pukau.
“Bujang lapuk,” tiba-tiba Dul menarikku yang mulai berjalan keluar rumpun. Aku terjerembab, masuk ke dalam perdu melati lagi. Seketika Dul membekam mulutku yang hendak bersuara. Kami nyalang menatap bujang lapuk yang memutar mata. Pebot dan Halik tetap menari, mengikuti irama kunang-kunang yang gemulai. Bujang lapuk mengiring keduanya ke dalam limas, kunang-kunang pun ikut serta. Sebagian besar tetap berputar-putar sampai atas bubungan.
Dul gegas menarikku keluar, mengendap-endap menuju dinding limas. Pintu tua itu sudah kembali merapat, ketika bujang lapuk hilang di baliknya. Malam terasa semakin mencekam. Udara tiba-tiba ikut berkongsi dengan gelap, dan dingin menyelinap. Bau melati semakin menyeruak.
“Jangan lihat kunang-kunangnya. Ia bisa menyihir kita,” bisik Dul yang kuanggukkan saja. Aku baru teringat, itu juga pesan Liman.
Dari sela-sela dinding limas yang tak rapat, kami menempelkan mata. Di dalam sedikit benderang karena cahaya kunang-kunang yang memenuhi isi limas. Bujang lapuk itu mengambil ketelnya. Meletakkan di atas meja. Hatiku berdesir seketika. Ia akan memasak Pebot dan Halik, cerita Emak terngiang.
Lalu, bujang lapuk itu mendekati Halik yang masih berputar dengan kunang-kunang. Aku dan Dul menahan napas. Apa yang kulihat selanjutnya membuatku hendak mati saja. Bujang tua itu mencabuti satu persatu kuku Halik. Satu persatu. Melemparnya ke dalam ketel. Semua. Hingga tak bersisa. Dan ia mencengkram Halik. Halik meringis. Kunang-kunang semakin banyak. Berputar-putar. Meliuk dalam irama tubuh.
~The END~